
Dek,
makanan yang kau suapkan ke dalam mulutku kemarin tanpa kusadari sekarang sudah tumbuh mekar menjadi bunga matahari indah yang kini kuletakkan dalam pot di taman depan halaman rumah.
Bunga matahari itu begitu cantiknya hingga taman depan pun sekarang bersinar dengan terangnya. Dan hati begitu bergidik takut melihat matahari yang bersanding dengannya pun kalah dalam hal benderangnya.
Dan adalah kuku lentikmu yang selalu menjadi kunang-kunang yang menerangi bunga itu saat malam hari karena selalu kutanam dan kusimpan di saat dia pecah atau saat dia patah.
Tapi dek,
Aku tak tahu apakah bunga itu akan tetap bisa bertahan ketika suatu saat nanti dia tahu kalau tanah halaman ini sebenarnya sudah terlalu pecah-pecah karena oleh banyak orang, halaman ini sudah terlanjur disewa.
.
.
(Oktober 2009)
Categorized in strawberrylove
Tags: bunga, dek, matahari, puisi, sajak
Bulan di secangkir kopi lebih indah dari bulan di langit tinggi
Kepekatan riak mata buta yang mengenal cahaya
Bulan di secangkir kopi lebih indah dari bulan di langit tinggi
Kehausan tapi tak ingin tahu rasanya kehilangan
Bulan di secangkir kopi lebih indah dari bulan di langit tinggi
Kepahitan air mata dari mata yang dituduh buta
.
.
(Agustus 2009)
Categorized in strawberrylove
Tags: bulan, cinta, kopi, puisi, sajak
Malam ini puisi sedang bernyanyi.
Tidak seperti biasanya, suaranya merdu sekali.
Mungkin karena para cengkerik yang sembunyi di balik jerami,
katak-katak berlompatan di kali,
atau sinar rembulan yang putih menyoroti.
Sedangkan penyair mencoba membuatnya abadi.
Lebih abadi dari panci yang dia tanam kembali.
(2009)
Categorized in applecool
Tags: malam, puisi, sajak
PUSPA = Puisi pendek dan asal
===========================
Sambal Hidup
Lahap sudah
makannya
tinggal ingusnya
(2009)
———————————–
Kepada Puisi
:joko pinurbo
Kau adalah hidung, aku ingusmu.
(2009)
———————————–
Categorized in applecool
Tags: puisi, sajak
Suatu hari ditemukan seorang laki-laki mati bunuh diri dengan minta bantuan tali. Lehernya terjerat. Ingusnya menggantung.
Kata saksi, itu ingus palsu yang baru dibeli kemarin pagi. Hidungnya juga tak mengakui itu ingusnya ketika ditanyai.
Untungnya didekatnya ditemukan bukti. Sepatah catatan kaki yang kelihatan baru dipakai menggosok bokong panci yang ditulisi:
“Hidup ini tak lebih dari sekedar keterlaluan.
Orang-orang semuanya ingusan sedangkan cuma aku saja yang berwajah tampan.
Aku benar-benar sudah tak tahan.”
Catatan kaki itu kemudian ditahan polisi: melumurinya dengan ingus untuk diperiksa sidik jari.
Melacak kepergian puisi.
Categorized in orangelife
Tags: bunuh diri, ingus, puisi, sajak